Headlines News :

Terpopuler

Tampilkan postingan dengan label Situasi Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situasi Kampus. Tampilkan semua postingan

MENGUAK SITUASI INTERAKSI MAHASISWA DAN DOSEN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI UNIVERSITAS PAMULANG





I.     Dasar Pemikiran
       Universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa fakultas. Setiap fakultas yang ada diperguruan tinggi umumnya dikelompokan berdasar disiplin ilmu yang telah terorganisir. Adapun tujuan pengelompokan disiplin ilmu tak lain untuk memudahkan penyelidikan suatu disiplin ilmu. Setiap fakultas dikepalai oleh ketua jurusan, yang dinamakan Ketua Program Studi (KAPRODI). Dalam menjalankan tugasnya seorang KAPRODI bertanggung jawab kepada Senator Akademis. Dalam setiap kebijakan yang dirumuskan tentang suatu disiplin ilmu oleh Senator Akademis, kemudian direkomendasikan oleh Dekan Fakultas, kemudian diserahkan oleh Pembantu Rektor II (Purek II) bidang akademik.
Namun yang terjadi dikampus kita tidak ada senator akademis, sehingga dalam implementasi proses birokrasi tidak terciptanya birokrasi akademik yang kondusif dalam suatu disiplin ilmu. Hal ini tentu sangat mengecohkan mahasiswa dan dosen dalam memahami suatu disiplin ilmu yang menjadi bidangnya. Berangkat dari dasar pemikiran inilah yang melatar belakangi penulis dalam membuat penulisan berjudul MENGUAK SITUASI INTERAKSI MAHASISWA DAN DOSEN DALAM BELAJAR MENGAJAR DI UNIVERSITAS PAMULANG sebagai bahan pendiskusian bersama.
II.        Rumusan Masalah
            Penulis menemukan suatu masalah didalam proses belajar mengajar di Universitas Pamulang, antara lain sebagai berikut:
1.      Apa yang terjadi pada interaksi antara mahasiswa dan dosen didalam kelas?
2.      Bagaimana interaksi yang terjadi pada dosen di kampus saat proses belajar mengajar?
3.      Bagaimana interaksi yang terbentuk pada mahasiswa dan dosen di lingkungan kampus Universitas Pamulang?
4.      Bagaimana hubungan antara mahasiswa dan dosen dalam menciptakan suasana kondusif disiplin akademik di Universitas Pamulang?
III.             Batasan Masalah
      Penulisan ini hanya memfokuskan pada hubungan antara mahasiswa dan dosen saat  proses belajar mengajar di Universitas Pamulang. Serta menjelaskan interaksi yang terjadi antara keduanya dalam menciptakan suasana kondusif disiplin akademik.
IV.             Tujuan Penulisan
      Adapun tujuan yang ingin penulis sampaikan dalam penulisan ini adalah:
1.      Sebagai bahan pendiskusian mahasiswa dalam meningkatkan cara berpikir dan mendorong partisipasi aktif di kalangan mahasiswa sebagai insan akademik.
 V.       Manfaat Penulisan
            Manfaat Teoritis
1.      Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan mutu kualitas belajar mengajar dalam pembentukan disiplin akademis.
Manfaat Praktis
1.      Tulisan ini digunakan oleh mahasiswa untuk melatih menulis dan cara berpikir



II.   Pembahasan
Penulis mencoba memaparkan masalah umum yang terjadi di Universitas Pamulang yang berkenaan dengan proses belajar mengajar,  diantaranya:
1.         Apa yang terjadi pada interaksi antara mahasiswa dan dosen didalam kelas?
            Analisis:
            Kondisi interaksi antara mahasiswa dan dosen yang kondusif sangat penting untuk menunjang proses belajar mengajar di dalam kelas. Namun ketika proses belajar mengajar terkadang terhalang oleh sikap elit para dosen, sehingga menciptakan jurang pemisah antara mahasiswa dan dosen dalam membuat transparansi kejujuran dan kedisiplinan menjadi tidak terjaga. Sesungguhnya transparansi dan disiplin merupakan prinsip dasar menjadi seorang akademis.
            Interaksi antara mahasiswa dan dosen, khususnya difakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris terjalin dengan baik. Hal ini antara mahasiswa dan dosen selalu membangun pola komunikasi yang baik serta dalam menerapkan hubungan emosional tidak menganut senioritas. Artinya dalam proses belajar mengajar posisi antara mahasiswa dan dosen tidak merasa ada yang ‘ ‘lebih’ dan ‘kurang’ dalam hal keilmuan yang menjadi spesifikasinya. Namun ada pula tak sedikit dari kalangan mahasiswa ataupun dosen, masih terjadi tumpang tindih dalam hal birokrasi. Sebagai contoh: Dalam pembuatan silabus mata kuliah yang diajarkan oleh salah satu dosen, penulis masih menemukan ketimpangan program yang hendak diterapkan. Riil nya adalah indikator pembelajaran dari setiap materi yang disampaikan kurang terkoordinir secara jelas. Akibatnya banyak mahasiswa yang mengalami miss ketika berada didalam kelas. Dalam mata kuliah tertentu yang diajarkan oleh dosen turut pula ketidakpahaman akan pemetaan disiplin ilmu itu sendiri. Beranjak dari hal ini yang kemudian berdampak pada pencapaian prestasi mahasiswa.
2.         Bagaimana interaksi yang terjadi pada dosen di kampus saat proses belajar mengajar?
            Analisis:
Interaksi hanya terjadi dua hal, pertama adanya kontak sosial dan komunikasi. Demikian halnya dengan dosen di kampus saat proses belajar mengajar. Interaksi antara dosen dan mahasiswa sangat diperlukan guna mempererat ikatan antara pelaku akademis. Dalam perjalanannya, mempererat ikatan antara subyek pembelajar diperlukan komunikasi untuk menciptakan harmonisasi di lingkungan akademis. 
            Interaksi yang terjadi pada dosen di kampus universitas Pamulang Jurusan Sastra Inggris berlangsung cukup baik. Artinya belum dapat dikatakan sangat baik maupun baik. Mengapa demikian? Karena penulis menemukan masalah umum yang terjadi di Fakultas Sastra Inggris Univ. Pamulang, seperti: Sikap elit pada dosen tertentu yang berlatar belakang lulusan Dalam maupun Luar negeri yang terkesan memunculkan ‘ego akademis’. Artinya bahwa dalam proses mentransfer ilmu pengetahuan masih belum menjalin komunikasi yang merujuk pada kebutuhan mahasiswa semata-mata. Namun lebih menonjolkan sistem yang diterapkan oleh pemangku yayasan.



3.         Bagaimana interaksi yang terbentuk pada mahasiswa dan dosen di lingkungan kampus Universitas Pamulang?
            Analisis:
Interaksi antara mahasiswa dan dosen diperguruan tinggi seperti dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Artinya tanpa salah satu dari keduanya tidak bisa menjalankan perannya sebagai pelaku akademis.
            Penulis menemukan Interaksi yang terbentuk pada mahasiswa dan dosen di Universitas Pamulang, misalnya: Hanya sebatas pembelajar dan pengajar saja. Ini terjadi karena umumnya mahasiswa universitas Pamulang hanya mengikuti perkuliahan di kelas saja tanpa menyibukkan diri dalam unit kegiatan mahasiswa. Maka dipastikan interaksi antara dosen dan mahasiswa hanya dilakukan didalam kelas. Belum secara menyeluruh interaksi antara mahasiswa dan dosen dilakukan diluar kelas.
 4.        Bagaimana hubungan antara mahasiswa dan dosen dalam menciptakan suasana kondusif disiplin akademik di Universitas Pamulang?
            Analisis:
Dalam menciptakan suasana kondusif disiplin akademik, peran antara mahasiswa dan dosen adalah sebagai indikator pencapaian prestasi mahasiswa. Cakupannya meliputi program persiapan pembelajaran yang ditunjang oleh sarana dan prasarana pembelajaran, fasilitator pendukung proses belajar mengajar serta ketersediaan bahan ajar, menjadi dasar bagaimana membangun interaksi yang sehat dilingkungan akademis.
            Yang dimaksud dengan kondusif akademik adalah kondisi di lingkungan akademis yang mampu menciptakan sinergi antara program, serta pencapaian dalam pengaplikasian ilmu di lingkungan akademis sehingga menciptakan satu kekuatan dalam tujuan strategis pembelajaran. Yang penulis amati secara umum pada Fakultas Sastra jurusan sastra Inggris adalah masih berangsurnya proses kondusif yang dimulai dari kedisiplinan para dosen yang kerap tepat waktu dalam memulai pelajaran, penggantian mata kuliah yang rumpang ketika seorang dosen berhalangan hadir. Hal tersebut dari aktifnya pihak mahasiswa yang menginginkan adanya penggantian mata kuliah yang tidak dihadiri dosen serta penyampaian materi oleh para dosen yang memberi referensi maupun rujukan sumber bacaan, sebagai pelengkap informasi mata kuliah.

KAMPUSKU RUMAHKU


KAMPUSKU
A. MENGAPA KITA ADA DIKAMPUS.?
1.      Terbawa oleh harapan dan impian, tetang masa depan yang gemilang, dengan Tekat mempelajar ilmu pengetahuan dan mengasah kemampuan. untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan syang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2.      Terbawa oleh tuntutan pekerjaan dengan harapan naik jabatan dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik serta meningkatkan kedudukan sosial.
3.      Terbawa oleh kejenuhan dirumah sambil mengisi waktu luang, mumpung kampus murah dengan harapan ketemu banyak teman dan atau Syukur-syukur dapat jodoh yang lebih baik.
Gambaran jawaban beberapa Mahasiswadari sekian banyak jawaban yang aku dengar, namun apapun itu merupakan esensi motivasi yang membawa kita dari lingkungan hidup dimasyarakat kelingkungan akademis, kemudian menyatukan kita disatu kampus yang merupakan lembaga pendidikan yang memiliki aturan dan disiplin. Entah, jawaban-jawaban diatas dalam proses seleksi waktu membawa kita kepada satu kesadaran baru tentang ilmu pengetahuan, yang membawa perubahan untuk kita sendiri dan orang lain, hanya waktu yang akan menjawab.
Kemudian dalam proses waktu juga yang menentukan kita beradabtasi dengan lingkungan masyarakat kampus. Dimana kita berintraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang yang memiliki rasio ilmiah.
Seiring berjalannya waktu juga, yang tetap bertahan dikampus pasti merasakan datang dan perginya teman dengan berbagai alasan. Sebagahagian pergi karena tuntutan ekonomi, sebagahagian pergi karena jodoh dan ada juga kaerana usia. Kepergian teman dengan berbagai cara dan lakon masing-masing, ada yang pergi dengan menyisakan kenangan indah dan ada juga yang pergi dengan kekecewaan dan kebencian. Namun saat kita berjumpa lagi menjadi bahan tertawaan yang manis untuk dikenang, mesti itu sebuah kesalahan ataupun kebenaran.
Memang silih bergantinya masa dan musim yang membawa kita kepada sebuah kesadaran pembelajaran antara puisi dan intusi yang kita temukan pada kehidupan selalu menuntut kearifan dan kebijaksanaan.
Namun duka tetaplah luka ketika kita melihat ribuan mahasiswa dikampus dengan ekonomi menengah kebawah, yang membawa segudang impian dan harapan kedalam sebuah instusi pendidikan yang memiliki sistem pengelolaan yang bobrok. Bukan niat kita mencaci atau mengungkapkan keburukan rumah sendiri. Namun ungkapan itu lahir dari rasa sayang kita terhadap sebuah institusi pendidikan yang kita harapkan berubah. Padahal perubahan yang kita harapkan hanya sedikit, jangan menghalang-halangi Mahasiswa untuk mengaktualisasi diri, masalah biaya dan pasilitas mahasiswa sadar sendiri akan kebutuhan serta pengelolaannya dalam berkelompok dan berkreasi bersama.
Kemaren seorang dosen bertanya, Mengapa kampus yang memiliki Mahasiswa 28.000 orang tidak bisa menghidupi seorang tukang buku bekas didepan kampus..?  aku jawab, iya.. aku tahu toko buku itu, dulu ada 3 toko buku bekas dan baru didepan kampus, dulu aku sering singgah disana sekedar baca dan terkadang beli. Namun dibalik jawaban bibir dalam hati aku berkata “jika anda tahu banyak mahasiswa yang sampai wisuda dikampus ini, tidak pernah menginjakkan kaki keperpustakaan bagaimana ekspresi anda.? Padahal gak bayar..! Sampe bukunya pada lapuk  tidak ada yang baca. Hal ini terjadi bukan karna keapatisan mahasiswa, akan tetapi Karena paranoit berlebih dari pengelola kampus menimbulkan kekakuan, sehingga antar mahasiswa tidak saling asah, asih dan asuh secara mandiri. Kamu sebagai dosen ketemu sama mahasiswa Cuma 90 menit setiap hari, mahasiswa dengan mahasiswa boleh dikatakan 24 jam. Semestinya disinilah fungsi fasilitator dan pengelola perguruan tinggi memfasilitasi intensitas pertemuan mahasiswa dengan mahasiswa, menjadi intensitas pertemuan yang positif sehingga terbangun budaya antar sesama mahasiswa saling asah, asih dan asuh, bukannya malah intensitas pertemuan mahasiswa dikampus dibatasi, ditekan dan diadu domba karena ketakutan mengganggu kepentingan bisnis fasilitator dan pengelola perguruan tinggi. Jika perlakuannya demikian, slogan pendidikan murah itu modus donk.? Tanpa ketulusan dan keikhlasan..?”
B. APA KESAN PERTAMA ANDA KETIKA MASUK KAMPUS..?
1.     Bagi yang bermotivasi pada jawaban pertanyaan A.1. wah gedungnya mewah tapi sayang ya.! Kompetensi dosennya masih kurang memadai dan dosen-dosennya dikelas melarang serta menjelek-jelekkan kelompok mahasiswa. Laboratoriumnya masih kurang banget alatnya, perpustakaannya miskin referensi buku-buku, fasilitas ekstrakulikulernya tidak ada.
2.     Bagi yang bermotivasi pada jawaban pertanyaan A.2 lumayan juga perkuliahan dengan sisa tenaga dari pekerjaan.
3.     Bagi yang bermotivasi pada jawaban A.3 wah ceweknya cantik-canti dan bohay atau cowoknya ganteng-ganteng tapi kere.
Namun terlepas dari apapun jawabanmu merupakan auto kritik bagi mereka yang mau memperbaiki diri, tetapi bagi mereka yang tidak mau dan atau siap dikritik kamu akan diincar saat pulang kuliah, setidaknya mendapat satu atau dua kali tampolan. Karena jawabannya sudah mengganggu ladang bisnis mereka.
D. BAGAIMANA PENGALAMAN ANDA SELAMA EMPAT SMESTER DIKAMPUS..?
Pengalaman akan terus menyentuh daya pikir kita, serta memandu kita kepada teori-teori abstrak atau opini yang pernah kita pelajari atau baca, hingga membawa kita kepada sebuah kesadaran atau pemahaman baru. Kemudian kesadaran dan pemahaman baru akan memandu kita pada realitas dan manfaat pendidikan yang sesungguhnya, hingga pengalaman dan pengetahuanlah yang membuat kita mengerti mana tindakan orentasi bisnis, politis dan atau mana orentasi akademisi murni dalam suatu institusi, jawaban bingung  ;
1.     Bagi yang bermotivasi jawaban pertanyaan A.1, A.2 dan A.3 bingung kok banyak banget tagihan, uang seminar, parkir, kunjungan praktek dan lain-lain.
2.     Bagi yang bermotivasi jawaban pertanyaanA.1, A.2 dan A.3 bingung kok ketika cuti paksa tidak ada surat pemberitahuan dan saat didrop out tidak ada surat peringatan 1, 2 dan 3.
3.     Bagi yang bermotivasi jawaban pertanyaan A.1, A.2 dan A.3 bingung kok pas kemaren petugas pengawas dikti datang alat laboratoriumnnya lengkap, buku-buku perpustakaannya lengkap, tapi hari ini tidak ada. Kata kuncinya ada pada sinsalabin.
4.      Bagi yang bermotivasi jawaban pertanyaan A.1, A.2 dan A.3 bingung kok banyak bangat aturan, struktur dan kewenangan pengelola pendidikan yang tidak jelas. Purek I kok ngatur rektor, Purek III kok gak mengikuti perintah pak rektor. Tapi akan kata kuncinya hanya satu “Kata Ketua yayasan”.
Terlepas dari kebingungan-kebingungan yang anda hadapi nikmati sajalah ketimbang hanya membuat sampah dalam pikiranmu, tetapi jangan coba-coba menggunakan kata kunci diatas itu hanya berlaku untuk jabatan Kepala Prodi keatas. Okey selamat berbingung Ria, tetapi dalam kebingunganmu tetap kedepankan kehati-hatian dan ketelitian dalam menempatkan pilihan dan tindakan.

DILEMA MAHASISWA


DILEMA MAHASISWA
A. Apa yang disbut dengan dosen..?
Pada pasal 1 ayat (2) UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen menyebutkan bahwa “Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugasutama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”

Kemudian defenisi diatas depertegas lagi dalam Pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2009 yang menyebutkan “Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan
dengan tugas utama mentransformasikan,mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”
Dari kedua defenisi diatas ada kalimat yang menyebutkan Menyebarluaskan Pengetahuan Melalui Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian terhadap masyarakat. Bila kita mencoba menatap kedalam kampus kita, maka akan timbul pertanyaan didalam benak kita.
1.      Penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat seperti apa yang telah disebar luaskan dosen-dosen, jika kita melihat DIKTAT dan SILABUS copy serta Paste karya orang lain..?
2.      Apakah defenisi diatas hanya hiasan atau dosen-dosen kita, tidak termasuk yang tunduk terhadap aturan tersebut..?
3.      Apakah karena dosen-dosen kita, bukan warga Indonesia tetapi Waraga asing sehingga meraka tidak tunduk pada defenisi diatas..?

B. apa defenisi, tujuan dan fungsi pendidikan..?

Bila kita membaca Pasal 1 ayat 1 undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”
Bila kita mencoba melihat masyarakat kampus, kita tidak akan menemukan yang disebut dengan Usaha Sadar dan terencana, akan tetapi yang kita temukan adalah “Usah bisnis dengan Modus Pendidikan Murah agar Mahasiswa Pasif dalam mengembangkan Potensi dirinya dan membunuh kecerdasan peserta didik” lantas kita bertanya mengapa mereka yang menciptakan sistem ini melakukannya kepada ribuan anak bangsa..? Jawabannya adalah untuk menutupi niat buruk dalam mengeruk keuntungan. Bila kita melihat Pembohongan publik yang didesain dengan manusia dewa yang perhatian terhadap orang miskin hanyalah Kamuplase, hal ini bisa rasakan dengan dilarang Mahasiswa aktif dalam Unit Kegiatan Mahsiswa dan Bem, karena ketakutan terbongkarnya kedok dibalik modus mereka.
Kemudian Pada pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tetang Sistim pendidikan nasional menyabutkan tujuan dan fungsi antara lain“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Bila ingin menterjemahkan dalam situasi yang temen-temen alami didalam kampus, selahkan menterjemakan sendiri apa TUJUAN dan FUNGSI pendidikan dari sudut pandang kampus kita sendiri. Sebagaimana kita ketahui bahwa mahasiswa merupakan bagian dari civitas akademik yang memiliki hak dan suara dalam menentukan kebijakan didalam kampus. Namun apa yang terjadi, mahasiswa hanya dibuat sebagai asset yang berjalan namun tidak memiliki hak suara seperti benda mati. Inilah kenyataan yang terjadi. Yang paling sadis lagi kelompok-kelompok mahasiswa dikebiri dengan intrik pesanan pemodal. Dimana semestinya dosen dikelas dalam perkuliahan hanya bertugas sebagai tenaga pengajar, namun dibebani tugas untuk melakukan pembusukan terhadap kelompok mahasiswa yang satu dengan yang lain agar terjadi konflik. Namun ini adalah suatu pembelajar bagi kita mahasiswa untuk lebih jernih menilai dan membangun persatuan antar mahasiswa yang satu dengan yang lain, kelompok mahasiswa yang satu dengan yang lain.
Semoga kita mahasiswa tetap survaivel dalam menghadapi penindasan dan pendiskriditan dari kalangan pebisnis dan politisi, apalagi kita yang kuliah dikampus swasta sangat rentan dengan perlakuan yang demikian. tinggal bagaimana kita bergerak dengan mengedepankan keintelktualan dan kehati-hatian kita saja.

LIBERALISASI PENDIDIKAN


Pamulang, 20 februari 2010
TENTANG
LIBERALISASI PENDIDIKAN AWAL  DARI KEHANCURAN BANGSA

       DIdalam pembukaan Undang-undang dasar  1945 sudah jelas disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara Republik  Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun bila kita mempehatikan orentasi institusi-institusi pendidikan  baik swasta maupun negeri sekarang ini, sangatlah jauh dari  tujuan Negara Indonesia merdeka seperti yang tercantum dalam undang-undang  dasar 1945 tersebut.
APA YANG DIMAKSUD  DENGAN LIBERALISASI PENDIDIKAN………..?
Liberalisasi Pendidikan adalah sebuah sistem yang sengaja diciptakan oleh kalangan Pemodal untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari instusi Pendidikan tersebut, tanpa melihat tercapai atau tidak tujuan negara repoblik  indonesia sperti yang tercantum  dalam Pembukaan Undang-Undang dasar 1945.
MENGAPA PENDIDKAN DILIBERALISASI DIINDONESIA…..?

Mengapa Pendidikan Diliberalisasi  Bila kita berbicara pendidikan sudah tentu merupakan instusi yang  sangat independent terbebas dari ruang-ruang berbagai macam politik praktis, sehingga dapat mewujudkan tujuan Negara Indonesia, karena yang  berperan membangun kecerdasan Bangsa didalam suatu Negara  adalah institusi-institusi pendidikan, baik dari tingkaat  TK maupun  ke tingkat perguruan tinggi. Sebagaiman kita ketahui bersama hanya Bangsa yang cerdaslah yang sanggup mandiri untuk mengelolah kekayaan  tanah air dan negaranya sendiri. mengingat  bumi Indonesia  yang subur dan kaya  dengan berbagai sumber  daya alam yang membuat Negara-negara  di dunia ini berlomba-lomba yang ingin mengasai Indonesia dengan berbagai cara dan system yang dilakukan, termasuk dalam bidang institusi pendidikan. Hal inilah yang mendorong kita  sebagai mahasiswa  untuk lebih kritis dan teliti. Bila kita jeli dalam memperhatikan dan meneliti  di lingkngan kampus, kita dapat merasakan dampak system liberalisasi pendidikan terhadap budaya sosial di tengah masyarakat  kampus kita sendiri. adapun dampak yang perlu kita perhatikan di kalangan mahasiswa sendiri, merebaknya pandangan  hendonisme, fasisme dan apatisme  di tengah masyarakat kampus. Bila kita yang membaca, bolehlah mencantumkan prediksi para ahli sosiologi  wajah bangsa Indonesia  ditahun 2020 adalah bangsa pekerja atau bangsa budak yang disuruh-suruh . semua yang nama sarjana tidak lagi memiliki kemandirian dansemua menggantungkan diri pada perusahan-perusahan yang bermodal asing. Apakah kita ini juga salah satunya. Marilah kita Tanya pada pikiran dan nurani kita masing-masing.

BAGAIMANA MELAWAN LIBERALISASI PENDIDIKAN…….?
     Bila kita memperhatikan Institusi pendidikan dari tingkatan  Taman Kanak-Kanak sampai ketingkat Sekolah Menengah Atas, dibentuknya Komite Sekolah bertujuan untuk mengontrol dan memperhatikan kinerja Institusi pendidikan dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam mencerdaskan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Tetapi bila kita memperhatikan lagi ditingkat Perguruan tinggi kita akan menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan didalam lembaga-lembaga Kemahasiswaan. Ada beberapa bidang yang sering menjadi kejangalan yang tidak luput dari pandangan kami :
1.       Masalah kedudukan Lembaga Kemahasiswaan (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang seyogianya dibawah naungan institusi pendidikan seperti perguruan tinggi, dibimbing dan dibina oleh Purek III bidang Kemahasiswaan dengan menunjuk dosen-dosen difakultas sebagai pengganti dalam menjalankan Lembaga Kemahasiswaan sehari-hari.
2.       Masalah ketidak sanggupan Mahasiswa dan para dosen untuk Membedakan Lembaga Kemahasiswaan (Unit Kegiatan Mahasiswaan) yang dinaungi Kampus dan Lembaga kemahasiswaan yang berbentuk Ormas.
3.       Masalah perhatian dan tanggung Jawab Institusi Pendidikan seperti perguran tinggi terhadap Lembaga Kemahasiswan secara Moril maupun Materil.
Selayaknya Mahasiswa sudah Semestinya Memperhtikan Hal-Hal seperti ini, serta mencoba mencari solusi-solusi terbaik untuk menjujung tinggi Independensi suatu Insetitusi Pendidikan. 

 

histat

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2014. Komando Strategi Mahasiswa Merdeka (KOSTUM MERDEKA) - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger